Pendahuluan
Mad Silah Qashirah merupakan salah satu hukum bacaan dalam ilmu tajwid yang penting dipahami saat belajar membaca Al-Qur’an. Hukum ini membahas cara membaca ha dhamir (هُ atau هِ) yang berada di antara dua huruf berharakat. Meskipun terlihat sederhana, pembaca tetap perlu memperhatikan penerapannya agar dapat membaca Al-Qur’an sesuai dengan kaidah tajwid.
Bagi yang sedang belajar ngaji dari dasar, memahami Mad Silah Qashirah dapat membantu bacaan menjadi lebih tertib dan benar. Tidak perlu terburu-buru menguasai semua hukum tajwid sekaligus karena belajar Al-Qur’an membutuhkan proses dan latihan bertahap. Mempelajari tajwid juga menjadi salah satu bentuk usaha untuk menjaga setiap huruf Al-Qur’an agar dibaca dengan sebaik-baiknya.
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Hadis tersebut mengingatkan bahwa proses mempelajari Al-Qur’an merupakan amal yang mulia. Jadi, apabila masih sering keliru ketika membaca, jangan langsung merasa minder. Kesalahan dapat menjadi bagian dari proses menuju bacaan yang lebih baik.
Pengertian Mad Silah Qashirah?
Secara bahasa, mad berarti memanjangkan, sedangkan silah berarti hubungan atau sambungan. Sementara itu, qashirah berarti pendek. Dalam ilmu tajwid, Mad Silah Qashirah adalah hukum bacaan yang terjadi pada ha dhamir (هُ atau هِ) yang berada di antara dua huruf berharakat, kemudian di baca panjang dua harakat.
Ha dhamir adalah huruf هُ atau هِ yang biasanya digunakan sebagai kata ganti orang ketiga laki-laki tunggal, seperti “dia” atau “-nya”. Ketika memenuhi syarat tertentu, ha dhamir tersebut mendapatkan tambahan bunyi panjang.
Secara sederhana, Mad Silah Qashirah dapat dikenali melalui beberapa ciri berikut:
- Terdapat ha dhamir (هُ atau هِ).
- Ha dhamir berada di antara dua huruf yang berharakat.
- Setelah ha dhamir tidak terdapat hamzah.
- Ha dhamir dibaca dengan panjang dua harakat.
Panjang dua harakat dapat di pahami seperti panjang bacaan mad thabi’i. Dalam praktiknya, pembaca tidak perlu memanjangkan secara berlebihan. Cukup menjaga ukuran panjangnya secara wajar dan konsisten.
Mengapa Disebut Mad Silah Qashirah?
Nama Mad Silah Qashirah memiliki makna yang berkaitan dengan karakter bacaannya. Disebut silah karena terdapat hubungan atau penyambungan bunyi pada ha dhamir dengan huruf setelahnya. Sementara itu, disebut qashirah karena panjang bacaannya hanya dua harakat. Ketika ha dhamir berharakat dhammah, biasanya terdapat tambahan bunyi wawu kecil (و). Sedangkan ketika ha dhamir berharakat kasrah, terdapat tambahan bunyi ya kecil (ي).
Namun, tanda tersebut bukan berarti harus dibaca sebagai huruf wawu atau ya secara terpisah. Keduanya berfungsi sebagai petunjuk untuk membantu menghasilkan bunyi sambungan yang sesuai dengan kaidah bacaan.
Syarat Terjadinya Mad Silah Qashirah
Agar lebih mudah mengenali Mad Silah Qashirah saat membaca Al-Qur’an, perhatikan beberapa kondisi berikut.
1. Terdapat Ha Dhamir
Syarat pertama adalah adanya ha dhamir, yaitu هُ atau هِ yang menjadi kata ganti orang ketiga laki-laki tunggal. Contohnya dapat ditemukan pada beberapa kata dalam Al-Qur’an yang memiliki dhamir tersebut.
2. Ha Dhamir Berada di Antara Dua Huruf Berharakat
Ha dhamir harus berada di antara dua huruf yang memiliki harakat. Artinya, huruf sebelum dan sesudah ha dhamir bukanlah huruf mati dalam kondisi yang menghalangi terjadinya silah. Kondisi ini perlu diperhatikan karena tidak setiap هُ atau هِ otomatis dibaca dengan Mad Silah Qashirah.
3. Setelah Ha Dhamir Bukan Hamzah
Apabila setelah ha dhamir terdapat hamzah, hukum bacaannya bukan lagi Mad Silah Qashirah, tetapi masuk ke pembahasan Mad Silah Kubra. Perbedaan ini penting untuk dipahami karena keduanya sama-sama berkaitan dengan ha dhamir, tetapi memiliki ukuran panjang bacaan yang berbeda.
4. Dibaca Dua Harakat
Mad ini dibaca sepanjang dua harakat. Ukuran ini sama dengan panjang Mad Thabi’i. Ketika belajar ngaji, latihan menjaga panjang dua harakat akan membantu bacaan terdengar lebih teratur. Jika belum terbiasa memperkirakan panjang harakat, latihan bersama guru ngaji dapat membantu memperbaiki ritme dan ketepatan bacaan.
Contoh Mad Silah Qashirah dalam Al-Qur’an
Salah satu cara paling efektif untuk memahami Mad Silah Qashirah adalah dengan melihat contoh langsung dari ayat Al-Qur’an.
Contoh 1: إِنَّهُ كَانَ
Pada rangkaian bacaan إِنَّهُ كَانَ, terdapat ha dhamir pada kata إِنَّهُ. Ha dhamir tersebut berada di antara huruf yang berharakat dan setelahnya tidak terdapat hamzah. Karena memenuhi syarat, ha dhamir membacanya dengan panjang dua harakat.
Contoh 2: لَهُ مَا
Rangkaian لَهُ مَا juga dapat menjadi contoh untuk memahami hukum Mad ini. Pada kata لَهُ, terdapat ha dhamir yang tersambung dengan kata berikutnya. Baca ha dhamir dengan panjang dua harakat agar bunyinya tidak terlalu pendek atau terputus.
Contoh 3: بِهِ بَصِيرًا
Pada rangkaian بِهِ بَصِيرًا, terdapat ha dhamir berharakat kasrah. Ha tersebut berada di antara huruf yang berharakat dan setelahnya bukan hamzah. Karena itu, bacaannya termasuk Mad Silah Qashirah dan dipanjangkan dua harakat.
Contoh 4: إِنَّهُ هُوَ
Rangkaian إِنَّهُ هُوَ juga dapat digunakan untuk latihan mengenali ha dhamir. Pada bagian tersebut, ha dhamir mendapatkan bacaan silah karena berada di antara huruf yang berharakat dan tidak di ikuti hamzah. Saat membaca contoh seperti ini, penting untuk tidak memanjangkan ha dhamir terlalu lama. Cukup dua harakat sesuai ketentuan.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membaca Mad Silah Qashirah
Mempelajari tajwid membutuhkan latihan dan ketelitian. Kesalahan yang sering terjadi saat membaca Mad ini yaitu membaca ha dhamir terlalu pendek atau terlalu panjang. Sebagian orang juga menganggap setiap ha dhamir sebagai Mad Silah Qashirah tanpa memperhatikan huruf sebelum dan sesudahnya. Karena itu, perhatikan posisi ha dhamir agar dapat menentukan hukum bacaan dengan tepat sesuai kaidah tajwid.
Kesalahan saat belajar merupakan hal yang wajar. Yang terpenting adalah terus berlatih dan tidak malu menerima koreksi. Jika membutuhkan bimbingan yang lebih terarah, kursus ngaji di Khoirunnas dapat menjadi pilihan untuk belajar bersama guru ngaji secara sabar dan bertahap, termasuk dalam memperbaiki panjang-pendek bacaan Al-Qur’an.
Cara Mudah Belajar Mad Silah Qashirah
Agar lebih mudah menguasai hukum bacaan ini, pembelajaran dapat dilakukan secara bertahap. Mulailah dengan mengenali bentuk هُ dan هِ dalam mushaf. Setelah itu, perhatikan huruf sebelum dan sesudahnya. Jika memenuhi syarat Mad Silah Qashirah, tandai ayat tersebut untuk dilatih. Selanjutnya, baca secara perlahan sambil menjaga panjang dua harakat. Setelah mulai terbiasa, tingkatkan kecepatan membaca secara bertahap tanpa menghilangkan ketepatan tajwid.
Beberapa kebiasaan yang dapat membantu:
- Membaca Al-Qur’an secara rutin meskipun hanya beberapa ayat.
- Menandai contoh Mad Silah Qashirah ketika menemukan dalam mushaf.
- Mengulang satu contoh bacaan beberapa kali sampai panjangnya terasa stabil.
- Meminta guru ngaji mengoreksi bacaan jika masih ragu.
Yang tidak kalah penting, jangan menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk berhenti belajar. Setiap usaha membaca Al-Qur’an memiliki nilai di sisi Allah. Jika masih bingung mengetahui kemampuan bacaan saat ini, Khoirunnas menyediakan test level mengaji untuk membantu mengenali kemampuan dan kebutuhan belajar. Hasilnya dapat membantu guru ngaji menentukan pembelajaran yang sesuai dengan level masing-masing.
Kesimpulan
Mad Silah Qashirah adalah hukum bacaan yang berkaitan dengan ha dhamir هُ atau هِ ketika berada di antara dua huruf berharakat dan setelahnya tidak terdapat hamzah. Bacaan ini dipanjangkan dua harakat. Memahami ciri, syarat, contoh, serta perbedaannya dengan Mad Silah Kubra akan membantu proses belajar tajwid menjadi lebih mudah dan terarah. Bagi siapa pun yang sedang belajar Al-Qur’an, tidak perlu merasa malu apabila masih melakukan kesalahan. Teruslah belajar ngaji secara bertahap, berlatih dengan sabar, dan bila memungkinkan mintalah bimbingan guru ngaji agar bacaan semakin tepat. Semoga setiap huruf yang di pelajari menjadi jalan bertambahnya kecintaan kepada Al-Qur’an dan keberkahan dalam kehidupan.
Ingin belajar ngaji dengan bimbingan sabar dan terarah? Coba gratis 1x pertemuan di Khoirunnas.

